Benarkah Traveling Bisa Membawa Kebahagiaan?

Benarkah Traveling Bisa Membawa Kebahagiaan?

Ada yang bilang, traveling itu hambur-hamburkan uang. Ada yang bilang, traveling itu cuman ajang pamer-pameran. Ada yang bilang, traveling itu cuman habisin waktu saja. Memang niat tiap orang itu berbeda, bagaimana pribadi masing-masing menyikapinya seperti apa. Ada yang melakukan traveling hanya untuk kabur dari rutinitas, ada yang hanya ingin merilekskan pikiran, ada yang traveling untuk mencari inspirasi, bahkan ada yang melakukan traveling hanya agar mengikuti tren (ada).

Kalian tentu paham betul dengan istailah “traveling”, bukan? Mungkin saja kalian semua yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang senang traveling alias jalan-jalan? Traveling sebagai hobby memang sah-sah saja dan tiada seorang pun di dunia ini yang berhak menentukan hobby kita, bukan? Bagi yang sering traveling, tentunya ini bisa menjadi hal yang sangat mengasyikkan.

Traveling adalah hobby yang sangat mengasyikkan, ini pasti akan disetujui oleh kita-kita penganut traveling sebagai hobby. Bisa jalan-jalan keliling Indonesia atau bahkan traveling-traveling keseluruh dunia mungkin akan berkesan dan terasa “waaahhhhhhh”! Ada banyak alasan mengapa orang-orang (termasuk saya) menjadikan traveling sebagai hobby. Alasan itu diantaranya adalah ingin melihat “dunia luar” dari dunia yang selama ini setiap hari kita lihat.

Traveling adalah tentang sebuah petualangan. Kita-kita ini yang mencintai traveling tidak hanya menjadikan jalan-jalan itu hanya untuk menjauh dari riuh kehidupan sehari-hari, melakukan traveling bisa juga karena kita ingin belajar tentang berbagai adat istiadat, budaya, ras, kebangsaan dan lain sebagainya. Adrenaline akan semakin terpacu saat kita melakukan perjalanan pada tempat-tempat yang belum diketahui atau belum pernah kita kunjungi, semuanya masih serba asing. Justru disinilah letak kepuasan batin pada kita-kita ini yang hobby traveling. Contoh kecil saja, coba kalian bayangkan kalau kalian sedang melakukan traveling ke Belitung. Di internet mungkin kalian sudah banyak mendapatkan informasi tentang apa itu Pulau Belitung, namun cerita akan menjadi lain tatkala kalian menginjakkan kaki di Belitung. Saat itulah petualang para travelers dimulai. Lalu, benarkah jika saat melakukan traveling kita dapat berbahagia? Bagaimana caranya?

Apakah Traveling Dapat Membawa Kebahagiaan?

Dalam penelitiannya yang berjudul Happiness Through Vacationing: Just a Temporary Boost or Long-Term Benefits? Dalam Journal of Happiness Studies tahun 2010, ia mencoba meneliti apa benar kebahagiaan jangka panjang bisa didapat melalui liburan.

Ia menulis, masyarakat modern menuntut setiap individu di dalamnya untuk terus konsumtif dan bekerja lebih keras, karenanya kita jadi memiliki kebutuhan tinggi untuk bersantai dan bersenang-senang. Kegiatan yang kita lakukan di waktu senggang adalah pelarian dari pekerjaan, bersenang-senang adalah cara kita untuk bersantai dan melepas stress. Lebih dari itu, setiap individu memiliki kebutuhan untuk melakukan sesuatu yang jauh dari kata biasa—untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari saja orang butuh pengalaman berbeda. Pengalaman yang jarang dinikmati, seperti pengalaman berlibur, menjadi semakin terjangkau bagi banyak orang di seluruh dunia; frekuensi perjalanan semakin meningkat beberapa tahun belakangan ini dan kedatangan wisatawan diperkirakan akan meningkat drastis dalam beberapa dekade ke depan.

Saat ini, industri pariwisata membuat kita percaya kalau berlibur akan membuat kita jauh lebih bahagia. Iklan-iklan menampilkan wajah yang tersenyum cerah, pantai dengan langit biru, dan orang-orang yang sedang menikmati hidupnya.

Pertanyaannya adalah, apa kita benar-benar menjadi bahagia lebih lama dengan melakukan perjalanan atau berlibur?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dosen yang ahli di beberapa bidang ini—subjective well-being, psikologi positif, pariwisata berkelanjutan, kualitas hidup, emosi, dan motivasi—melakukan penelitian dengan melibatkan 3.650 orang warga Belanda yang berlibur setiap tiga bulan sekali dalam dua tahun. Orang yang rutin melakukan perjalanan dan liburan disebut sebagai vacationers.

Penelitian ini coba menjawab tiga pertanyaan: (1) apa vacationers lebih bahagia dari non-vacationers? (2) Apa vacationers lebih bahagia saat melakukan perjalanan lebih lama dan menjadi tidak bahagia bila perjalanan dalam jangka pendek? (3) Apa berlibur menambahkan kebahagiaan pada semua orang atau hanya pada mereka yang menghargai liburannya?

Menggunakan data dari GfK Leisure and Tourism Panel yang merupakan perwakilan dari suara populasi Belanda, ia meminta anggota panel mengisi kuesioner empat kali dalam satu tahun dan melaporkan hal-hal mendetail dari perjalanan liburan mereka. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap pengukuran, tahun 2007 dan 2008. Sampel yang diambil rata-rata berumur 45 tahun dengan pendapatan rumah tangga per bulan sebesar 2.200 euro. Sebagian besar memiliki pekerjaan yang bagus dan sisanya pensiunan. Mayoritas lulus SMA, sarjana, dan pascasarjana.

Variabel yang digunakan adalah (1) Happiness yang di dalamnya termuat life-satisfaction dan hedonic level, (2) Vacationing atau frekuensi liburan selama tahun yang ditentukan, (3) Importance of vacationing atau indikasi pentingnya berlibur bagi mereka sebagai individu, terakhir (4) Socio-demographic, yang mencakup tingkat pendidikan, pengeluaran bersih rumah tangga, umur, dan jenis kelamin.

Berbeda dengan asumsi banyak orang, penelitian ini menyimpulkan bahwa para vacationers lebih sulit bahagia dibandingkan non-vacationers, selain itu lama atau tidaknya perjalanan tidak berdampak pada kebahagiaan jangka panjang.

Peneliti di Centre of Sustainable Tourism and Transport ini menambahkan, implikasi dari penelitian ini adalah efek positif dari berlibur terhadap kebahagiaan terbatas pada fase-fase saat kita merencanakan perjalanan tersebut, ketika kita melakukan perjalanan dan sesaat setelah liburan tersebut selesai. Sehingga bila seseorang ingin terus menambah kebahagiaannya dengan berlibur, ia harus sering-sering melakukan liburan dalam waktu singkat, dalam rangka menikmati periode singkat dari peningkatan kebahagiaan.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa penelitian ini mengambil sampel warga negara Belanda. Mereka tidak kekurangan jalan-jalan dan mungkin saja berlibur sudah menjadi kebiasaan atau rutinitas. Menjadi masuk akal jika individu dari negara lain yang lebih miskin dan jarang jalan-jalan bisa mengambil manfaat berbeda dalam mendapat kebahagiaan melalui melakukan perjalanan dan berlibur.

Manfaat Travelling untuk Kesehatan

Menurut beberapa ahli, travelling baik untuk pikiran, tubuh dan jiwa kita. Inilah alasan mengapa travelling bagus untuk kesehatan kita. Travelling merupakan kesempatan bagi kita untuk bersantai dan melepas lelah sementara. Menurut beberapa ahli, travelling baik untuk pikiran, tubuh dan jiwa kita. Inilah alasan mengapa travelling bagus untuk kesehatan kita:

1. Meningkatkan Empati

Menurut Wallace J. Nichols, pengarang buku Blue Mind: The Surprising Science That Shows How Being Near, In, On, or Under Water Can Make You Happier, Healthier, More Connected and Better at What You D, berlibur – terutama di tempat yang dekat dengan air – bisa membantu kita melepaskan emosi kita dan meningkatkan empati. “Sering dikaitkan dengan perasaan kagum dan takjub, air dapat meningkatkan empati dan gairah kita. Memperbaiki hubungan dengan diri sendiri dan orang lain. Bagi musisi seperti Pharrell Williams dan ahli syarah, Oliver Sacks, berlibur dekat dengan elemen air merupakan sumber kreativitas,” jelas Wallace.

2. Mendapatkan Kembali Bentuk Badan yang Diinginkan

Beberapa orang mungkin menganggap liburan bukan kesempatan yang baik untuk berolahraga. Namun, seorang traveler ternyata justru lebih aktif dibanding mereka yang sehari-hari duduk di kantornya saja. Kita bisa berjalan 10 mil per hari selama berkeliling Eropa atau saat mengunjungi Disneyland. Selain itu, bisa juga mencoba aktivitas di tempat baru seperti mendaki gunung. Ada pula beberapa penginapan yang menyediakan pusat kebugaran agar tamu-tamunya tetap fit meskipun sedang jauh dari rumah.

3. Menyatu dengan Lingkungan Baru dan Menghilangkan Stres

Dr. Margaret J. King, direktur Center for Cultural Studies & Analysis mengatakan, travelling memiliki banyak manfaat; yang paling menonjol adalah menghilangkan stres. Banyak perubahan psikologis yang terjadi saat seseorang berpindah dari rumah atau kantornya ke “tempat ketiga” yang belum diketahui untuk merasakan pengalaman baru. Dengan kegiatan yang tak terlalu banyak per harinya, membebaskan diri dari kompleksitas pekerjaan dan hubungan, pikiran me-reset ulang, begitu pula dengan tubuh kita sehingga stres pun hilang. “Manusia selalu menginginkan hal-hal baru, dan travel menawarkan paket komplit karena bisa melihat wajah baru, mendengar suara dan pemandangan yang belum pernah dilihat sebelumnya,” kata Margaret.

4. Waktu Beristirahat

Kurang tidur yang berkaitan dengan stres dapat menimbulkan konsekuensi negatif yang mempengaruhi kemampuan kognitif dan efisiensi kita. Max Hirshkowitz, ketua National Sleep Foundation (NSF) mengatakan, liburan merupakan kesempatan yang sangat baik untuk membayar hutang tidur kita. Agar lebih berenergi, NSF menyarankan sebaiknya kita tidur sekitar tujuh jam per hari.

5. Meningkatkan Mood

Sebuah survey yang dilakukan tahun 2014 oleh Diamond Resorts International menemukan bahwa lebih dari tiga perempat responden mengatakan merasa lebih bahagia jika merencanakan perjalan paling tidak setahun sekali. Dr. Leigh Vinocur, psikiater dan juru bicara American College of Emergency Physicians, tidak terkejut dengan hasil survey tersebut. “Mengambil waktu liburan sendiri maupun bersama keluarga menurunkan tingkat stres kita dan melepaskan semua hormon stres yang berakibat buruk bagi kesehetan mental dan fisik kita,” kata Leigh. Beberapa studi juga mengatakan bahwa kenangan bagus saat liburan bisa memberikan kebahagiaan lebih lama bagi kita.

Manfaat Liburan Dari Segi Psikologis

Untuk segi psikologis, aktifitas liburan ini ternyata memegang peranan penting bagi timbulnya efek positif di diri seseorang. Sekarang kalau di tanya bagaimana perasaan anda setelah melakukan liburan? Yang keluar pastinya ekspresi senang, gembira, semangat/memiliki motivasi, dll. Semua faktor psikologis ini dapat membuat kita lebih siap dalam melakukan aktifitas apapun. Selain itu, faktor psikologis juga dapat mendorong pemikiran yang kreatif, inovatif, dan daya juang yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Jika hal ini terjadi, tentunya akan berdampak positif bagi karir anda, berprestasi di sekolah, atau sukses dalam menjalankan usaha anda. Faktor psikologis memang tidak kelihatan dan hanya dapat dirasakan oleh setiap individu dan tolak ukurnya hanya diri kita sendiri yang mengetahuinya. Dan jika seseorang sudah memiliki kepuasan dalam hidupnya, maka akan berdampak positif kepada diri dan lingkungan sekitarnya.

Lalu bagaimana jika ternyata aktifitas liburan atau “travelling” dapat membuat kita jadi kaya dimasa depan, kira-kira anda setuju tidak dengan pernyataan ini? Jawabannya tergantung dari bagaimana kita melihatnya. Tapi mungkin saya bisa memberi gambaran seperti ini, ketika anda melakukan liburan, hal apa yang anda temukan? Nah, dari sini kita tahu bahwa dari sebelum hingga sesudah liburan kita akan mendapatkan banyak hal baru dan pengetahuan baru.

Semua ini akan menambah wawasan dan memperkaya diri kita dengan berbagai pengetahuan. Kalo sudah dalam tahap ini, tentu kita bisa mengkreasikan ide-ide baru untuk berbagai hal positif, termasuk untuk menambah penghasilan sehari-hari.

Nah, sekarang gimana setelah mengetahui manfaat dari aktifitas liburan, apakah memang bermanfaat bagi anda? Atau tetap masih ragu? Semuanya dikembalikan kepada diri masing-masing, tetapi untuk mengetahuinya tentu harus dicoba langsung. Setelah itu kita baru bisa menilai, apakah poin-poin diatas ini memang terbukti benar atau hanya berlaku bagi sebagian orang saja? Terima kasih.